Musik Kintung sendiri
adalah seni musik Suku Banjar dari masa lalu yang hampir tak pernah lagi
didengarkan generasi muda, termasuk penulis saat itu. Alat musiknya sendiri
berbahan bambu dengan tangga nada yang cukup merdu untuk didengar.
Saat itu, penulis yang
masih berprofesi sebagai wartawan sempat mewawancarai dan menulis berita tentang
seni musik yang dibawakan oleh Kelompok Musik Kintung
Ar-Rahman Desa Muara Bincau, Martapura. Bisa baca selengkapnya
disini.
Gusti Jadri, Perwakilan Kelompok Musik Kintung Ar-Rahman kepada penulis dan beberapa teman wartawan saat
itu mengungkapkan kesenian musik tradisional Banjar ini
merupakan budaya petani Banjar di masa lalu.
Katanya, kesenian musik tradisional ini dimainkan para petani khususnya saat terjadi
musim kemarau ketika hujan tak turun sama sekali. Pagelaran ini sendiri digelar saat malam hari setelah pelaksanaan
shalat isya.
Kesenian musik ini
sendiri menurut Gusti Jadri lahir dari kepercayaan, dimana suara dari musik
kintung ini bisa menyeru katak untuk berbunyi bersahut-sahutan yang dipercaya
akan membuat hujan turun. Hal ini pun sesuai dengan fakta atau tanda alam,
dimana bunyi katak yang bersahutan menjadi pertanda turunnya hujan.
![]() |
| Alat musik kintung sendiri terbuat dari bambu kering yang dipukulkan ke bantalan yang terbuat dari kayu (foto : pribadi) |
Alat musik ini sendiri
terdiri atas 7 jenis alat musik yang terbuat dari bahan bambu kering yang bagus
dan tebal, dimana masing-masing alat musik memiliki 7 nada musik yang berbeda. Kemudian
alat musik kintung ini sendiri dipukulkan ke bantalan yang terbuat dari kayu.
Masing-masing 7 alat kintung tersebut mempunyai nama masing-masing, yakni Hintalu Randah, Hintalu Tinggi, Tinti Pajak, Tinti Gorok,
Pindua Randah, Pindua Tinggi dan Gorok Tuha.
Berkembangnya zaman,
tradisi para petani Banjar tersebut kemudian menjadi perlombaan berhadiah antar
kampung di Martapura dan sekitarnya di zaman
Bupati Banjar 1965-1972, Budhi Gawis.
Dimana yang dilombakan pada zaman dulu kata Gusti Jadri adalah
keserasian dalam menggerakkan alat musiknya, karena seni musik ini sendiri pada dasarnya dimainkan oleh 7 orang.
Sementara itu dari situs resmi Disbudpar Kabupaten Banjar, Musik Kintung merupakan
salah satu kesenian musik tradisional dari Suku Banjar yang berasal dari daerah
Kabupaten Banjar, yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan Bincau, Martapura.
Musik Kintung sendiri termasuk alat musik
pentatonis, tapi boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi karena cara
membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar
Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan,
tapi bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti
kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat
berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.
Bahan untuk membuat alat musik kintung ini
adalah bambu yang bentuknya mirip seperti angklung dari Jawa Barat.
Biasanya bambu yang digunakan untuk membuat
alat musik ini tidak sembarang bambu artinya harus dipilih secara cermat
terutama yang dapat mengeluarkan bunyi yang bagus dan juga tidak mudah pecah.
Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan
bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu, dimana rautan itu
makin ke atas semakin mengecil sebagai pegangannya, sedang bagian bawahnya
tetap seperti biasa.
Panjangnya biasanya dua ruas dan buku yang ada
di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi.
Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada
rautan bagian atasnya, dimana semakin dibuang atasnya itu akan menimbulkan nada
yang lebih tinggi.
Pada perkembangannya musik Kintung merupakan
musik yang bersifat instrumentalia ini dan dapat mengiringi lagu atau nyanyian
Banjar umumnya yang berjenis lagu-lagu tirik dan japin, dimana agar lebih
harmonisasinya biasanya ditambah dengan babun (gendang) dan gong atau alat
musik lainnya yang diperlukan.
Tak hanya di Kabupaten
Banjar saja, seni musik sejenis dengan Kintung juga ada di bagian dari
Kalimantan Selatan, misalnya musik Kurung-Kurung.
Untuk lebih lengkap
mengenai alat musik tradisional Suku Banjar, bisa dengan melihat langsung alat-alat
musik tersebut saat mengunjungi Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru.
Berikut adalah video
musik Kintung yang penulis saksikan di upload di channel Youtube media
Banjarmasin Post.


Komentar
Posting Komentar