Langsung ke konten utama

Kintung, Alunan Musik Para Petani Banjar Pemanggil Hujan

Musik telah menjadi bahasa universal manusia, di kebudayaan manapun di dunia, saling terkait atau tidak terkait, semuanya mengenal musik baik dalam bentuk primitif, hingga bentuk musik modern.

Tak terkecuali di daerah tempat tinggal penulis, tepatnya di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Di salah satu kabupaten tertua di Bumi Antasari ini, ada beragam musik di masyarakat, salah satunya adalah Kintung, yakni salah satu jenis musik yang langka ditemukan saat ini.

Penulis sendiri melihat langsung pagelaran musik tradisional ini saat meliput acara pembukaan Pasar Murah menjelang bulan Ramadhan pada bulan Maret 2022 yang lalu. Pergelaran musik Kintung yang sangat langka di masa sekarang ini memberi warna tersendiri saat pembukaan Pasar Murah tersebut.

Ditengah ibu-ibu yang mengantri sembako, khususnya minyak goreng yang langka saat itu, bunyi-bunyian unik dari alat musik yang dimainkan sejumlah orang ini cukup menarik perhatian.


Permainan musik Kintung, biasanya dimainkan 7 orang pemain, masing-masing memainkan 1 nada dari 7 nada dalam satu tangga nada. (Foto : Pribadi)

Musik Kintung sendiri adalah seni musik Suku Banjar dari masa lalu yang hampir tak pernah lagi didengarkan generasi muda, termasuk penulis saat itu. Alat musiknya sendiri berbahan bambu dengan tangga nada yang cukup merdu untuk didengar.

Saat itu, penulis yang masih berprofesi sebagai wartawan sempat mewawancarai dan menulis berita tentang seni musik yang dibawakan oleh Kelompok Musik Kintung Ar-Rahman Desa Muara Bincau, Martapura. Bisa baca selengkapnya disini.

Gusti Jadri, Perwakilan Kelompok Musik Kintung Ar-Rahman kepada penulis dan beberapa teman wartawan saat itu mengungkapkan kesenian musik tradisional Banjar ini merupakan budaya petani Banjar di masa lalu.

Katanya, kesenian musik tradisional ini dimainkan para petani khususnya saat terjadi musim kemarau ketika hujan tak turun sama sekali. Pagelaran ini sendiri digelar saat malam hari setelah pelaksanaan shalat isya.

Kesenian musik ini sendiri menurut Gusti Jadri lahir dari kepercayaan, dimana suara dari musik kintung ini bisa menyeru katak untuk berbunyi bersahut-sahutan yang dipercaya akan membuat hujan turun. Hal ini pun sesuai dengan fakta atau tanda alam, dimana bunyi katak yang bersahutan menjadi pertanda turunnya hujan.

Alat musik kintung sendiri terbuat dari bambu kering yang dipukulkan ke bantalan yang terbuat dari kayu (foto : pribadi)

Alat musik ini sendiri terdiri atas 7 jenis alat musik yang terbuat dari bahan bambu kering yang bagus dan tebal, dimana masing-masing alat musik memiliki 7 nada musik yang berbeda. Kemudian alat musik kintung ini sendiri dipukulkan ke bantalan yang terbuat dari kayu.

Masing-masing 7 alat kintung tersebut mempunyai nama masing-masing, yakni Hintalu Randah, Hintalu Tinggi, Tinti Pajak, Tinti Gorok, Pindua Randah, Pindua Tinggi dan Gorok Tuha.

Berkembangnya zaman, tradisi para petani Banjar tersebut kemudian menjadi perlombaan berhadiah antar kampung di Martapura dan sekitarnya di zaman  Bupati Banjar 1965-1972, Budhi Gawis.

Dimana yang dilombakan pada zaman dulu  kata Gusti Jadri adalah keserasian dalam menggerakkan alat musiknya, karena seni musik ini sendiri pada dasarnya dimainkan oleh 7 orang.

Sementara itu dari situs resmi Disbudpar Kabupaten Banjar, Musik Kintung merupakan salah satu kesenian musik tradisional dari Suku Banjar yang berasal dari daerah Kabupaten Banjar, yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan Bincau, Martapura.

Musik Kintung sendiri termasuk alat musik pentatonis, tapi boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar

Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan, tapi bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

Bahan untuk membuat alat musik kintung ini adalah bambu yang bentuknya mirip seperti angklung dari Jawa Barat.

Biasanya bambu yang digunakan untuk membuat alat musik ini tidak sembarang bambu artinya harus dipilih secara cermat terutama yang dapat mengeluarkan bunyi yang bagus dan juga tidak mudah pecah.

Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu, dimana rautan itu makin ke atas semakin mengecil sebagai pegangannya, sedang bagian bawahnya tetap seperti biasa.

Panjangnya biasanya dua ruas dan buku yang ada di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi.

Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada rautan bagian atasnya, dimana semakin dibuang atasnya itu akan menimbulkan nada yang lebih tinggi.

Pada perkembangannya musik Kintung merupakan musik yang bersifat instrumentalia ini dan dapat mengiringi lagu atau nyanyian Banjar umumnya yang berjenis lagu-lagu tirik dan japin, dimana agar lebih harmonisasinya biasanya ditambah dengan babun (gendang) dan gong atau alat musik lainnya yang diperlukan.

Tak hanya di Kabupaten Banjar saja, seni musik sejenis dengan Kintung juga ada di bagian dari Kalimantan Selatan, misalnya musik Kurung-Kurung.

Untuk lebih lengkap mengenai alat musik tradisional Suku Banjar, bisa dengan melihat langsung alat-alat musik tersebut saat mengunjungi Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru.

Berikut adalah video musik Kintung yang penulis saksikan di upload di channel Youtube media Banjarmasin Post.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penasaran Asal Usul Uang? Dongeng Ini Siap Membuka Matamu Tentang Uang

Uang saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan hidup dan menjadi pengukur standar kekayaan seseorang, bukan hanya berfungsi sebagai alat tukar. Dalam sejarahnya, uang di masa lalu merupakan barang yang bernilai seperti logam mulia, atau barang yang berdasarkan kesepakatan bersama sebagai alat tukar terlepas dari nilai barang, seperti batu, kerang dan sebagainya. Saat ini, mayoritas yang kita temui berupa uang dari bahan kertas dan atau angka digital dalam rekening kita, tapi pernahkah kita berpikir bagaimana uang tersebut tercipta? Ilustrasi uang. Foto : Pixabay Ada banyak versi mengenai proses terciptanya uang, mulai dari versi manusia memulai perdagangan dengan sistem barter atau tukar menukar barang secara langsung, baru nanti menemukan logam mulia sebagai alat tukar. Namun ada pula yang menuliskan bahwa sejak manusia ada di muka bumi, uang sudah dipakai, terutama dari bahan logam mulia yang terbukti sepanjang zaman tidak rusak oleh korosi atau berkarat. Terlepas dari itu, bagaimana m...

Menciptakan "Bahasa Buatan" dengan Sandi ATBaSh

Kalau kita penggemar berat novel-novelnya Dan Brown atau paling tidak sudah pernah baca Da Vinci Code, pasti kita udah tau apa itu sandi ATBaSh. Dalam novel itu diceritakan bahwa Prof. Langdon memecahkan teka-teki nama Baphomet dengan sandi ini dan hasilnya merujuk pada nama Sophie. Menurut Wikipedia, ATBaSh sebenarnya adalah sandi sederhana untuk abjad Ibrani (abjad yang digunakan orang Israel / bangsa Yahudi), yang diperoleh dari menukar huruf-hurufnya dengan cara : Aleph (huruf pertama) ditukar dengan Tav (huruf terakhir), Beth (huruf kedua) ditukar dengan Shin (huruf sebelum tav), dan seterusnya. Oleh karena itulah makasandi ini dinamakan ATBSh (dibaca ATBaSh, singkatan dari Aleph – Tav – Beth – Shin). Jadi prinsipnya adalah pembalikan urutan saja. Abjad Ibrani. Sumber : Wikipedia Dalam Alkitab (Bible), di kitab Jeremiah (Yeremia) sandi ini dipakai untuk menyebutkan nama bangsa seperti : Lev Kamai (Yeremia 51 : 1, yang dalam bahasa Ibrani berarti Singa Kamai ) adalah ATBaSh dari K...